Tampilkan postingan dengan label kbbt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kbbt. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2016

OASE di ANTARA PILAR KOTA.

Jurnal DAAI, Episode 437 : OASE di ANTARA PILAR KOTA.
Keberadaan taman penting artinya bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya di perkotaan. Taman tidak hanya sekedar memberi ruang penghijauan atau fungsi ekologis, tetapi juga sebagai sarana edukasi, sosial, kreasi dan rekreasi. Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, Ruang Terbuka Hijau yang dianggap layak untuk sebuah kota, haruslah berjumlah sekitar 30 persen dari total luas lahan kota tersebut. Di Jakarta, hal itu sulit dilakukan.
Berapa rata-rata maksimal kemampuan pemerintah provinsi DKI untuk menambah taman kota sampai dengan 15 tahun terakhir ini?

Komunitas Baca Baca di Taman Ulang Tahun Ke II

Komunitas Baca Baca di Taman - IMS

Rabu, 08 Juli 2015

KBBT (komunitas baca-baca di taman)

baca-baca di depan rumah kaca tameng KBBT_rahmad
“Kami berkumpul di Bundaran HI dan membaca di sana. Kami pernah didatangi aparat karena dicurigai apa yang kami jajakan, tapi nyatanya ‘kan kami menjajakan buku, bukan benda mencurigakan. Pertemuan keempat baru pindah ke Taman Menteng karena lebih nyaman”, timpal mereka. “Pertimbangan lain, di taman banyak pohon sehingga lebih sehat. Ternyata lebih asik membaca di taman karena bebas polusi dan tidak berisik”.

klik: wawancara KBBT dengan ruru radio dengan tema taman kota
http://jalan-tikus.org/wp/?page_id=56


Jumat, 03 Juli 2015

Kumpulnya Tuh di Sini, di Taman

baca-baca di taman akustikan doc.KBBT_windu

Ruang terbuka hijau pilihan bagi komunitas di Jakarta untuk bertemu, menyalurkan hobi sekaligus rekreasi.

Pendopo kecil Taman Suropati minggu siang terisi penuh. Tiga puluhan pengunjung memadati bangunan terbuka itu, awal Desember lalu. Ada yang berdiri, yang duduk juga ada. Hujan membuat mereka berdempetan dan bercengkrama. Rumput taman, batu akik, kopi dan masih banyak hal lainnya menjadi tema bicara. Beberapa terlihat saling berkenalan di taman yang ada di Jakarta Pusat ini.

Di antara mereka ada seorang lelaki memegang dua kantong plastik besar. Terlihat ada beberapa gulungan kertas, kuas dan cat air. Dia bercengkrama dengan lelaki lain yang kompak memakai kaos abu-abu bertuliskan Sketch Alcoholic. “Kita dari komunitas gambar. Namanya Sketch Alcoholic,” ujar Agus Junawan, salah satunya.

Lelaki 45 tahun itu menjelaskan Sketch Alcoholic adalah komunitas terdiri dari penghobi gambar sketsa. Komunitas yang berdiri 2010 ini mempunyai sekitar 1.000 anggota di seluruh Indonesia, 600 di antaranya ada di Jakarta. Awal mula komunitas terjalin di facebook. Mereka membuat grup dan saling unggah karya. Lalu kopi darat di beberapa tempat, termasuk di taman kota. Mereka pernah berkumpul di kebun binatang Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah, kawasan Kota Tua dan taman Suropati. Jadwal ketemuan di taman Suropati adalah hari minggu pertama setiap awal bulan.
“Kumpulnya tuh di sini, di taman dari jam 8 pagi sampai 12 siang,” kata Agus yang tinggal, Jakarta Timur itu.

Ia menjelaskan selain untuk kumpul-kumpul, mereka juga melayani jika ada yang minta digambar. Sketch Alcoholic tak segan berbagi ilmu. “Hari ini ikut kopi darat ada tujuh orang. Ada juga dua anak yang ikut belajar,” jelas Agus yang mengajak istri dan putri kecilnya itu.

Taman mereka pilih karena nyaman dan kondusif. Selain gratis, mereka bisa menikmati suasana sejuk berhawa segar sekalian rekreasi bersama keluarga. Taman kota, menurut Agus, selain memperindah juga berfungsi sebagai tempat olahraga, rekreasi, bermain-main juga belajar. Cocok untuk menghilangkan kepenatan di tengah kesibukan sehari-hari. “Sehari saja di taman sudah segar. Refreshing otak,” katanya.

Saat ini kegiatan kumpul di taman bagi orang-orang sehobi mulai merebak. Sudah mulai ada kesadaran, karena berkumpul dan berlajar di tempat terbuka itu mengasyikkan. Contohnya, di Taman Suropati ada komunitas musik, komunitas pecinta reptil, komunitas Taman Suropati Chambers dan lainnya. Sayangnya, menurut jumlah taman dan ruang terbuka hijau di Ibukota masih kurang. “Kita butuh tempat berpijak ruang terbuka hijau,” jelas lelaki kelahiran Subang itu, sambil berpamitan karena hujan sudah reda.

Di saat yang sama, beberapa anak dan pemuda yang tadi juga ikut berdempetan di pendopo, saat itu telah sibuk dengan biola masing-masing. Di lapangan sebelah barat taman, mereka duduk berkelompok, tiga sampai tujuh orang. Mereka dari komunitas musik Taman Suropati Chambers atau TSC yang menggesek biola setiap hari minggu dari pukul sepuluh pagi sampai dua siang.
Komunitas sejak 2007 ini fokus pada biola, meskipun ada juga yang belajar cello ataupun flute. “Sesuai keahlian saya, yaitu di biola,” ujar Ages Dwiharso, pendiri TSC.

Lulusan Sekolah Pendidikan Guru Van Lith, Magelang ini awalnya ingin mendirikan sekolah musik tapi tidak ada biaya. Saat itu pemerintah banyak menertibkan pengamen jalanan yang dianggap “menggangu” ketertiban umum. Ages menawarkan konsep bermain musik di taman kepada para pengamen. “Barangkali mereka tidak di jalan lagi, bisa jadi guru musik atau pemain biola profesional,” kata guru musik dan arrangger orchestra itu.

Saat ini pegiat komunitas TSC sekitar 400 orang. Mereka telah diundang mengisi acara ke berbagai tempat untuk mengisi acara dan dua kali diundang ke Istana Merdeka. “Besok diundang Pak Ahok ke Balaikota untuk mengiringi makam malam. Saya ajak 12 anggota yang mahir,” jelas Ages.
Kini, komunitas TSC malah menjadi incaran para orang tua untuk anaknya berlatih biola. Untuk membantu kelancaran kegiatan TSC, seperti untuk fotokopi bahan ajar, transportasi dan biaya lain terkait kegiatan komunitas, para orang tua itu saweran 200 ribu rupiah sebulan. “Segratis-gratisnya kegiatan tak mungkin tanpa biaya. Awalnya pakai uang saya sendiri, sekarang terbantu dengan saweran itu,” ujarnya. Namun, tak semua ikut saweran, bagi yang tak mampu bisa gratis. “Pakai subsidi silang,” kata lelaki 44 tahun itu.

Konsep komunitas musik di taman dipilih Ages karena ingin memberi opsi kegiatan di hari libur, selain jalan-jalan ke mall. Konsepnya adalah rekreatif, edukatif dan kreatif. Rekreasi dengan bermain di taman. Edukasi dengan memberikan pendidikan, bukan hanya bermusik, tapi juga cara bersosialisasi, bekerjasama, pembentukan karakter, taat aturan dan hidup dalam masyarakat majemuk. Kreatif, menjadikan taman kota sebagai ruang bermusik. Musiknya dinikmati pengunjung, kegiatannya menjadi obyek fotografi. Tak salah Museum Rekor Indonesia (MURI) memberi TSC sertifikat komunitas musik taman pertama di Indonesia.

Salah satu petugas pengelola taman Suropati, sebut saja pak Jono, membenarkan bahwa selain pengunjung pribadi, ada beberapa komunitas yang berkegiatan di taman Suropati. Ada komunitas musik biola, musik band, musik reggae, pecinta reptil,  yoga, tari-senam, skesta, fotografi dan lainnya. “Sejauh ini positif. Di sini terbuka untuk komunitas apa saja. Kalau komunitasnya baru, harus membuat surat pemberitahuan ke Dinas Pertamanan DKI Jakarta,” katanya.

Sementara di Taman Menteng ada Komunitas Baca-Baca di Taman. Edwarnov alias UK, pegiat dari komunitas ini mengatakan, mereka berkumpul di Taman Menteng setiap Sabtu, jam 8-10 malam. Mereka membaca buku, sastra, majalah, baca puisi dan diskusi. Komunitas yang didirikan September 2012 ini juga membuat terbitan komunitas dan blog. “Anggotanya keluar masuk, tapi pas kopi darat bisa sampai 50 sampai 100an yang datang,” katanya.
baca-baca di taman menteng doc.KBBT_aziz

Edwarnov mengaku belakangan ini mereka kurang nyaman karena lampu taman sering mati. Ia berharap, Taman Menteng diberi penerangan yang cukup agar tidak dijadikan tempat mesum dan rawan kriminalitas. “Kalau bisa ada fasilitas wifi karena ada banyak komunitas, seperti fotografi, sepeda, dan parkour,” katanya.

Taman atau ruang terbuka hijau di Jakarta terhitung masih minim. Saat ini jumlahnya sekitar 10 persen dari luas wilayah Jakarta. Padahal, merujuk pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap kota seharusnya menyisihkan minimal 30 persen dari luas wilayah untuk ruang terbuka hijau (RTH).

Menyenangkan kumpul bersama teman sehobi di taman. Menikmati udara segar, melepas penat dan menyaksikan hiburan. Nah, jika Anda punya komunitas, maka tak ada salahnya janjian di taman. Selamat mencoba.

Agus Hariyanto

http://www.energiview.co.id/2015/02/25/kumpulnya-tuh-di-sini-di-taman/

Rabu, 01 Juli 2015

Menemukan Taman Siswa Lewat Baca-Baca di Taman

baca-baca di taman doc.KBBT_windu


"Kenapa, sih, kalau ada komunitas baca, selalu dikaitkan dengan mahasiswa?" Pertanyaan menyengat itu dilontarkan Agus, salah seorang pegiat Komunitas Baca-Baca di Taman, Sabtu (28/3) malam, di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Agus sehari-hari bekerja di salah satu bengkel cat untuk sepeda motor.
kompas_inggki rinaldi

Selembar kertas bertuliskan, "Mau Pintar Kenapa Musti Bayar" dengan gambar seseorang tengah bersila membuka sebuah buku ditempelkan di Taman Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/3) malam.

Bersama tiga kawannya, Azis yang bekerja sebagai sopir metromini, Edwan yang berkarya dalam bidang penyelenggaraan kegiatan, dan Rahmad yang seorang mahasiswa, Agus menjalankan komunitas tersebut.
Setiap hari Sabtu, selepas waktu maghrib atau isya, mereka membawa buku-buku dari kediaman masing-masing. Buku-buku tadi lalu digelar begitu saja dengan alas seadanya di salah satu pojok Taman Menteng.
Orang-orang yang datang bebas membaca aneka koleksi buku dengan tema sejarah, sastra, dan sebagainya itu. Malam itu, Edwan yang tinggal di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, dan Agus yang tinggal di Pondok Gede, Bekasi, menjadi pembawa buku-buku tersebut.
Anak-anak usia SD dan SMP, menurut Edwan, adalah pembaca yang relatif kerap datang ke tempat itu. Selain itu, sebagian anak-anak jalanan yang selama ini relatif kesulitan beroleh akses membaca bahan-bahan bacaan seperti buku.
Upaya membebaskan
Dengan sorotan lampu seadanya yang ada di taman tersebut, jika tidak bisa disebut remang-remang, sejumlah orang lantas turut berkumpul. Mereka membincangkan sejumlah hal, termasuk ihwal pendidikan saat ini yang alih-alih membebaskan, tetapi justru makin membuat sebagian individu terkungkung tanpa mencecap kemerdekaan berpikir dan bertindak.
Sekalipun disebutkan setiap Sabtu malam, jadwal itu bisa berubah cepat. Ini tergantung dari stamina yang dimiliki sejumlah pegiatnya. Jika mereka berhalangan terkait urusan pekerjaan, bisa dipastikan kumpul-kumpul sembari membaca di taman itu mesti ditiadakan dulu.
Sebuah zine dengan nama Komazine, termasuk yang mengawali napas komunitas tersebut. Kini, produk setebal 27 halaman berisikan sejumlah karya tulisan itu dijual seharga Rp 7.000 per eksemplar.
Akan tetapi, para pembelinya sangat diharapkan bisa membayar lebih. Pasalnya, donasi itu bakal dipergunakan untuk menyelenggarakan sejumlah kegiatan nyata. Sebutlah saja, misalnya, baca puisi di taman, atau sekadar diskusi dengan komunitas lain.

Dimulai sejak September 2012, komunitas itu telah mengalami pula periode jatuh-bangun lazimnya organisasi lain. Para pegiatnya bergantian, yang berotasi sesuai dengan tuntutan hidup dan kepentingan masing-masing.
Namun, mereka bersepakat bahwa kegelisahan ihwal minat baca relatif rendah dan cenderung minimnya ketersedian ruang publik bagi masyarakat telah membuat ide pembentukan komunitas itu tercetus.
"Tidak ada demokrasi tanpa ruang publik," sebut Edwan.
Sebuah kertas bertuliskan, "Mau Pintar Kenapa Musti Bayar" dengan gambar seseorang tengah bersila membuka sebuah buku ditempelkan dekat tempat Agus dan Edwan duduk. "Kadang kala ada juga orang yang datang, lalu mengajak berdebat dan tidak setuju dengan kami," tutur Edwan.
Ketidaksetujuan itu biasanya seputar penentangan ide Edwan dan kawan-kawan bahwa pendidikan mestilah berlaku untuk semua. Sifatnya yang membebaskan, alih-alih menjadi semacam alat untuk melakukan eksploitasi terhadap sesama.
kumpul di taman KUDETA doc.KBBT_windu
Tentu saja, pemilihan lokasi taman, dalam hal ini Taman Menteng, dilakukan pula dalam kaitannya dengan upaya menuju pembebasan itu tadi. Ini seperti merujuk pula pada ajaran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang mestinya tidak berjarak dengan realitas di tengah-tengah masyarakat. Perihal pendidikan yang mestinya bisa dilangsungkan di mana saja, kapan saja, tanpa perlu disekat-sekat ruang kelas yang cenderung membatasi.
"Ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani". Atau bisa juga dimaknai dengan: "Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan."
Ini tentang memaknai taman, ruang publik, dan pendidikan yang (mestinya) membebaskan.
oleh: Ingki Rinaldi
http://print.kompas.com/baca/2015/03/31/Menemukan-Taman-Siswa-Lewat-Baca-Baca-di-Taman


Kamis, 11 Juni 2015

Ehh Baca-Baca di Taman

bacadi taman yeaah

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.”
― Milan Kundera

“Memasuki taman seperti membuka sebuah buku: ada lorong yang terang, pohon-pohon hijau yang tersusun seperti kalimat-kalimat yang teratur, atau tumbuh-tumbuhan yang liar terbiar, dan kita terpesona dengan warna-warna bunga, permukaan rata yang sedikit curam, pasir halus serta batu keras yang berlumut disalut waktu.” ( Baharuddin Zainal, Monolog Kecil Tahun-Tahun Gelora). Membaca buku di taman sepertinya menyenangkan dan menyegarkan di ruang terbuka hijau di tengah kota gedung-gedung yang menjulang ke angkasa. Menatap langit sebuah ritual yang menyegarkan membuka pikiran terbuka dan membuang energi negatif terbang pergi menjauh di gantikan  dengan energi yang positif. “Taman seharusnya digunakan oleh masyarakat kota metropolitan yang kekurangan ruang bermain, ruang alternatif. Taman menjadi pilihan bijak untuk di akhir pekan” taman tempat yang gratis dan menyenangkan.

Baca-baca di taman hahaha ..gila taman tempat pacaran, tempat senang-senang tapi membaca adalah sesuatu yang menyenangkan bisa juga pas lagi duduk berduaan di bangku taman dengan pacar. Atau buat yang lagi pingin sendirian Seperti sebuah lagu Cahaya lampu kuning tersamar/ Terduduk tenang / di bangku taman/ setelah lelah nikmati malam/ mata terpejam. “Di Bangku Taman” – Pure Saturday. Kami (baca-baca di taman) pernah didatangi aparat keamanan karena dicurigai apa yang kami jajakan, tapi nyatanya ‘kan kami menjajakan buku, bukan benda mencurigakan, lagi pula buku yang kami jajakan untuk di baca gratis. Pertemuan keempat baru pindah ke Taman Menteng karena lebih nyaman dan menyenangkan”. “Pertimbangan lain, di taman banyak pohon sehingga lebih sehat. Ternyata lebih asik membaca di taman karena bebas polusi dan tidak berisik”apa lagi letak taman menteng yang agak tersembunyi di pusat kota bagaikan sebuah oase di hutan beton yang semakin gersang.

Selain tempat untuk pacaran, rekreasi gratis, berolahraga, kegiatan bertipe relaksasi di taman melahirkan juga sebuah Komunitas Baca Baca Di Taman yang bergiat mengajak berkumpul dan membaca di taman dan berdiskusi ringan . “Kami berangkat dari kegelisahan atas aktivitas membaca yang sudah susah, harga buku semakin tak terjangkau, apalagi belum ada yang mengadakan kegiatan seperti itu di ruang publik. Juga, Taman Menteng adalah taman tertutup, tamannya ada di dalam sehingga tidak terlalu bising”, karena taman adalah ruang publik juga yang bisa di akses siapa pun.

Bawa Buku, Buka dan Baca di Taman, ‘Mau Pinter, Kenapa Mesti Bayar?’ adalah slogan dari komunitas kami yang berdiri tepat pada tanggal 1 September 2012 ini. Kami  menyediakan buku gratis yang merupakan buku-buku sumbangan dan koleksi pribadi para penggiat baca-baca di taman. Jenisnya macam-macam antara lain buku politik, novel, sejarah, sosok yang inspiratif, komik, sastra, filsafat dari magazine hingga zine. Ada sesi diskusi bergulir di antara sesama anggota yang biasanya acranya di sebuat  BIR (bincang ringan) tapi bolehlah sambil nge-bir untuk menghangatkan badan karena semakin malam semakin dingin di taman, ada juga sesi MIRAS biasanya agak lebih di utamakan untuk pembicara tamu yang mau mengisi diskusi. Oh, iya ada KUDETA juga loh di taman tapi kumpul dengan teman biasanya setiap awal bulan. Tak tersa berjalan ternyata sudah dua tahun ini setiap sabtu malam minggu.

Oh, ya sampai ketemu di depan rumah kaca taman menteng, mampir sejenak untuk bersantai dan membuka beberapa halaman buku karena ketemu fisik lebih enak dibandingkan lewat alam maya yang semakin menjadi candu dalam hidup yang mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Uu  Jakarta . September 2014 katanya ceria