Tampilkan postingan dengan label komunitas baca-baca di taman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunitas baca-baca di taman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2015

Taman Kota Milik Kita

RUANG TERBUKA
Kota adalah ruang yang selalu tumbuh. Celakanya, pertumbuhan kota sering kali berjalan liar, mengabaikan kebutuhan dasar penghuninya, termasuk kebutuhan pada ruang terbuka. Kaum muda, sebagai bagian dari masyarakat, cenderung ditinggal oleh arus perubahan itu. Namun, selalu ada cara untuk menyiasatinya.
komunitas baca-baca di taman doc.KBBT-azis

Pandangan itu dilontarkan oleh pemerhati kota, Marco Kusumawijaya, dalam tulisannya mengenai album musik Dosa, Kota, & Kenangan (2015) yang dibuat oleh kelompok Silampukau asal Surabaya. Marco menulis ”Mereka (kaum muda) sering kalah (oleh perubahan kota), misalnya dalam perebutan ruang, bahkan untuk kegiatan yang sepele seperti bermain bola”.
Salah satu lagu dalam album itu adalah ”Bola Raya”. Dalam kalimat lugas, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening itu menceritakan, mereka bermain bola di jalan raya tak memedulikan cemoohan orang. ”Kami rindu lapangan yang hijau. Harus sewa dengan harga tak terjangkau. Tanah lapang berganti gedung. Mereka ambil untung, kami yang buntung”. Demikian lirik lagu itu.
Gedung yang dimaksud dalam lagu itu bisa termasuk pusat perbelanjaan. Tak bisa dimungkiri memang, pusat perbelanjaan atau mal menyediakan ruang untuk perjumpaan. Namun, untuk bisa memanfaatkannya, ada syarat ini-itu. Katakan saja, untuk bisa duduk-duduk bercengkerama dengan kawan lama, orang harus jajan terlebih dulu. Untuk berolahraga, tentu harus menyewa fasilitasnya.
Taman di perkotaan sudah semestinya kembali berperan sebagai tempat berkumpul yang egaliter. Semua golongan berbagai usia bisa berkumpul atau sekadar asyik menikmati kesendirian sambil membaca buku, misalnya. Memang ada juga sisi komersial yang menyusup di taman itu, seperti para pedagang asongan. Namun, menyisihkan uang sedikit untuk pedagang kecil seperti mereka pun tak ada ruginya. Sepiring ketoprak, misalnya, bisa disantap dengan membayar Rp 10.000 saja.
Dalam beberapa tahun terakhir, warga Jakarta sudah mulai mendatangi kembali taman-taman yang ada. Beberapa taman yang ramai setiap sore adalah Taman Surapati dan Taman Ayodya. Beragam sekali kegiatan di sana. Banyak yang bergerombol duduk-duduk, ada yang berlari kecil mengitari taman mencari keringat, ada yang berkesenian.
Satria Fajar (24) mengunjungi Taman Surapati pada Minggu pekan lalu. Ia terlihat asyik menggambar pepohonan dan patung yang ada di taman itu menjelang berbuka puasa. Sayup terdengar alunan musik keroncong yang dimainkan beberapa kelompok dari sisi barat taman.
Satria hobi menggambar. Ia tak hanya menggambar di taman. Namun, menggambar di taman memberinya energi tambahan. ”Inspirasi untuk gambar biasanya bermunculan kalau di taman. Musik yang ada di sini tidak mengganggu konsentrasi saya, tapi justru memunculkan inspirasi baru,” katanya.
Di sudut lain ada juga sekelompok anak muda yang serius berdiskusi. Mereka sedang membahas proyek pertunjukan.
baca di bangku taman doc.uu

bir bincang ringan docKBBT_agoes
Warga mengisi waktu libur dengan bermain dan bercengkerama di Taman Ayodya, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu (atas). Warga berolahraga di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Taman menjadi oase, tempat berlibur dan berolahraga murah bagi warga.
”Bertemu di kampus sudah terlalu sering dan bosan. Di taman ini, suasananya baru dan sejuk, banyak pepohonan. Obrolan biasanya jadi lebih cair,” kata Ida Lutfianti (22).
Miras dan bir
baca di taman depan rumah kaca doc.KBBT_windu

baca-baca di taman acara BUS beras utk semua doc,KBH

Aktivitas asyik lain juga ada di Taman Menteng. Komunitas Baca-Baca di Taman (KBBT) hampir setiap Sabtu malam menggelar lapak di depan rumah kaca di taman itu. Mereka mempersilakan siapa saja untuk datang, buka buku, dan membaca. Boleh juga membawa sendiri. Selain itu, mereka juga sering menggelar diskusi.
”Ada acara Miras, akronim dari mikir keras, dan Bir atau bincang ringan. Di acara Miras itu, kami pernah kedatangan penulis Heri Latief. Kami lantas berdiskusi soal karyanya dan bergantian membacakan puisi, siapa pun yang punya karya,” kata Agus (26), salah seorang pegiat komunitas itu.
Menurut Agus, kegiatan membaca di taman adalah bentuk pendobrakan stereotip. Membaca bukanlah kemewahan bagi golongan yang bisa membeli buku dan punya ruang pribadi. Di taman, tempat berkumpulnya bermacam-macam orang, aktivitas membaca berwujud sebagai kegiatan egaliter.
Selain buku, lapak mereka juga diisi dengan sejumlah edisi zine, buklet buatan sendiri yang diperbanyak dengan cara fotokopi. Komunitas itu, kata Agus, juga membuat zine sendiri dengan penulis dari sesama mereka, termasuk Agus. Mereka sangat terbuka untuk tukar-menukar zine dengan komunitas atau orang yang punya zine.
Kota Bandung, Jawa Barat, dengan julukannya sebagai ”Parijs van Java” punya banyak taman juga. Pemerintah kota itu bahkan merancang setiap taman tersebut dengan fungsi khusus, seperti taman untuk mengajak jalan-jalan binatang peliharaan, taman untuk berolah kebugaran, dan taman untuk menonton film.
Taman Film, demikian namanya, terletak di bawah Jembatan Pasupati, ikon kota. Di salah satu tiang jembatan itu ada layar berukuran besar. Pengunjung bisa menikmati film yang ditayangkan atau sekadar menonton siaran langsung pertandingan klub sepak bola kebanggaan mereka.
Konon, kawasan Taman Sari itu dulunya adalah tempat ”jin buang anak”, kumuh, dan tidak nyaman. Sekarang, banyak pembuat film yang berusaha menampilkan karya mereka di sana. Para pembuat film independen di Bandung mendapat tempat untuk mempertontonkan karya. Hal itu bisa menambah semangat baru bagi talenta kreatif di bidang perfilman.
Pemerintah, sebagai pembuat kebijakan, punya dana sehingga sudah selayaknya memperbanyak taman dan fasilitas penunjang, seperti lampu, tempat sampah, serta petugas kebersihan dan keamanan. Jika sudah demikian, warga bertanggung jawab menghidupi taman itu dengan berbagai kegiatan. Jadi, main-mainlah ke taman. Siapa tahu kalian bisa dapat inspirasi untuk menjalani kehidupanmu. Jangan lupa untuk membuang sampahmu pada tempatnya.
(HEI)

http://print.kompas.com/baca/2015/07/14/RUANG-TERBUKA-Taman-Kota-Milik-Kita

Rabu, 08 Juli 2015

KBBT (komunitas baca-baca di taman)

baca-baca di depan rumah kaca tameng KBBT_rahmad
“Kami berkumpul di Bundaran HI dan membaca di sana. Kami pernah didatangi aparat karena dicurigai apa yang kami jajakan, tapi nyatanya ‘kan kami menjajakan buku, bukan benda mencurigakan. Pertemuan keempat baru pindah ke Taman Menteng karena lebih nyaman”, timpal mereka. “Pertimbangan lain, di taman banyak pohon sehingga lebih sehat. Ternyata lebih asik membaca di taman karena bebas polusi dan tidak berisik”.

klik: wawancara KBBT dengan ruru radio dengan tema taman kota
http://jalan-tikus.org/wp/?page_id=56


Jumat, 12 Juni 2015

SEBARKAN BUDAYA MEMBACA DARI DEPAN RUMAH KACA

doc: intan provoke #94 


Mau teknologi terus berkembang sampe bikin kita keriting,
Tapi membaca buku itu tetap penting!

Berangkat dari kegelisahan 6 orang yang merasa harusnya buku jadi sesuatu yang gampang didapet, Edwan, Aziz, Agus, Edi, Dimas,dan Apri akhirnya bikin sebuah kegiatan Baca-Baca di Taman tepat dua tahun lalu. “Banyak orang yang pengen baca buku, cuma kadang mereka nggak sempet buat dateng ke toko buku atau perpustakaan, jadi kami akhirnya berinisiatif buat mendatangi mereka ke sini biar mereka bisa baca buku,” cerita Edwan sebagai humas Komunitas Baca-Baca di Taman (KBBT) di Taman Menteng.

Dari sekian banyak taman yang ada di Jakarta, menurut mereka Taman Menteng paling strategis sekaligus bersejarah. “Iya dulunya sebelum berubah jadi taman, ini kan stadion sepak bola yang bersejarah bangetbuat Indonesia. Udah gitu, kalo di taman lain (misal:Taman Suropati), udah banyak kegiatannya. Jadi kitamilih di sini, karena belum ada kegiatan yang semacam ini di sini,” aku Edwan lagi.
Konsep baca-bacanya sendiri juga sederhana banget. Kalian bisa baca buku apa aja di sana secara gratis.Baik itu buku bawaan sendiri atau yang disediain KBBT. “Kita kan bagian dari publik dan taman ini kan salah satu ruang publik. Kenapa nggak kita mengisi Taman Menteng ini dengan aktivitas baca buku sebagai bentuk partisipasi kita di negara demokrasi.” Edwan dan kelima temen penggiat lainnya Cuma pengen mengajak orang-orang yang ada di sana buat baca buku. “Kalo nggak baca, minimal bawa buku aja, biar kita di sini bisa saling berkomunikasi. Komunikasi itu kan terjadi karena ada kesamaan. Nah dari sama-sama bawa buku jadinya kan kita bisa ngobrol dan diskusi,” tambahnya.
KBBT selalu hadir tiap malam minggu jam 19.30 sampe 22.30 wib tepat di depan rumah kaca Taman Menteng, Jakarta. Dengan kertas bertulis “Mau Pintar, Kenapa Musti Bayar” yang ditempel di kaca dan deretan buku yang digelar di atas kain hitam sederhana, kalian bisa dengan gampang menemukannya. Buku-buku yang mereka sediakan juga bervariasi. Mulai dari buku-buku lama yang susah ditemuin, seperti novel Keluarga Cemara, Larung, komik, buku politik, sosial, budaya, sampe majalah. Mereka juga nggak keberatan buat membelikan buku yang sama kalo kalian mau. “Pernah ada yang mau beli buku yang ada di sini. Cuma karena kami emang sukabuku, jadi nggak bakal kami jual. Tapi kalo bisa kami belikan, nanti kami belikan buku yang sama.” Oh iya, nggak cuma bisa baca buku apa aja secara gratis, kalian juga bisa ikut diskusi bareng dengan topik apa aja. Mulai dari musik, film, budaya, sampe politik juga pernah mereka bahas. Soalnya KBBT punya dua kegiatan diskusi, yaitu Bincang Ringan dan Mikir Keras. Kalo Bincang Ringan, pembicaranya itu adalah dari temen-temen KBBT, sementara Mikir Keras ada pembicara tamu dari luar. Selain itu, mereka juga sering bikin pementasan budaya, seperti baca puisi.

Nah biar suasana bacanya tambah seru, mereka pun menyediakan ruang buat siapa aja bermain musik. “Banyak juga yang sengaja dateng ke sini, bukan buat baca buku, tapi buat akustikan. Dan itu kita bebaskan. Lumayan buat bikin suasana jadi meriah dan nggak bosen,” kata Edwan yang mengaku kalo tim KBBT akhirnya ikut bikin band juga bernama Infus. 

Tapi yang namanya menggunakan fasilitas publik,pasti ada aja yang kendalanya. “Macem-macem sih. Awal kami di sini, kami dianggap aneh. Taman kan biasanya tempat pacaran. Kami juga pernah dicurigai menjual buku sampe-sampe lampu dari rumah kacayang jadi alat penerang utama kami buat baca, pernah dimatiin secara sengaja. Akhirnya ada pembaca yang nyeletuk deh, Baca-baca apaan gelap-gelapan gini? Nggak jelas. Ya untungnya kami tetep konsisten. Jadi, ya udah terus aja,” cerita Edwan. Sejauh ini, kata Edwan orang-orang mulai sadar sama keberadaan KBBT di Taman Menteng. Mulai dari ibu-ibu yang sengaja bawa anaknya ke sini buat baca. Mereka yang kebetulan lewat atau yang sengaja jauh-jauh ke sini buat baca aja. Tapi nggak sedikit juga yang sengaja pengen baca dan bawa buku sumbangan. Pada akhirnya, KBBT dan mereka yang mulai senang baca buku di sana berharap ruang publik ini bisa terus mereka manfaatkan buat kegiatan membaca. “Ke depannya sih kita jangan diganggu-ganggu lagi sama kegiatan-kegiatan komersil, kayak syuting sinetron. Orang yang lagi santai baca-baca terpaksa harus minggir dan pindah dari sini ke sana. Terus ke sana. Ke sana. Sampe lama-lama hak publik itu tersingkir sama kegiatan komersil.”

Ada satu pesen keren KBBT nih dari kutipan Milan Kundera. “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” Jadi, mari bawa buku, buka, dan baca-baca di taman. Langsung follow aja twitternya @bacaditaman kalo lo mau lebih tahu lengkap. Mau kasih buku juga boleh banget lho.


 (Intan provoke magazine edisi 94 oktober 2014)

Kamis, 11 Juni 2015

Sepotong Cerita di Depan Rumah Kaca


gambar ilustrasi :firman felani


Apa nama komunitasnya?
Namanya Komunitas Baca-Baca di Taman,
Hahhhhhhhh.........apaannnn...........”sambil mengerutkan dahi”
Komunitas Baca-Baca di Taman?????? Komunitas taman bacaan kaleee???
Bukan Rab, Mas, Pak...........nama komunitasnya Komunitas Baca-Baca di Taman (KBBT)

            Masih inget banget  waktu itu kami bareng-bareng mencari tahu semua tentang ruang publik khususnya ruang terbuka hijau atau taman. Gila gak menurut kalian kelakuan security Taman Menteng waktu itu, padahal udah lumayan lama juga KBBT beraktifitas di taman menteng yang sejarah dulunya bekas stadion menteng tempat team kebanggaan sepakbola Jakarta (tetapi kelakuan the JakManianya enggak patut di banggakan) yaitu PERSIJA berlatih di ubah menjadi ruang terbuka hijau, yang sekarang bernama Taman Menteng tetangganya Taman Kodok. Dari gelar lapak baca di depan dekat air muncrat (seberang sevel) yang sekarang menjadi tempat parkir motor liar sampe pindah kedepan rumah kaca sampe sekarang (kalo enggak salah kurang lebih 6 bulan buka lapak baca di Taman Menteng). Teman dari Bekasi lagi asik main skate di ambil papan skatenya sama security, ya mau enggak mau rebut balik papan nya, eh malah tuh aparat nanya.

Punya izin enggak gelar bacaan dan nongkrong disini......................
Inikan ruang publlik Pak, Bebas digunakan untuk kegiatan positif
Ya tetap aja harus punya izin dulu kalo mau bikin kegiatan disini, biar kita sama-sama enak
Oh ....Begitu ya Pak harus punya ijin dulu

Nah loh buat kegiatan positif ditaman harus ada izin, yaudah mau enggak mau dengan terpaksa tutup lapak bacanya dulu deh.

            Tutup buku, beresin gelaran dan balik kiri bubar jalan, bukan berarti bubar juga semangatnya, cari tahu informasi kesana-ksini tentang ruang publik (apa, kenapa dan mengapa ruang publik di buat) amunisi sudah siap.... maju jalan ....menuju Dinas Pemakaman dan Pertamanan ehhhh ternyata benerkan kegiatan positif dan tidak bersifat komersial enggak perlu izin. Malam minngu besoknya kami gelar lagi bacaan dan membuka buku lagi di Taman Menteng ....jenuh membaca ya berdendang bersama kawan-kawan tentang keadaan dan realitas yang terjadi disekitar, teguran dari aparat kemarin bukannya akhir dari intimidasi (walaupun masih bersifat soft) ya begitulah hidup penuh dengan proses ada yang manis dan ada yang pahit.

            Kegiatan apasih, kok namanya gitu, ih enggak jelas gitu deh.............. banyak jg sih yang mencibir KBBT walaupun umurnya sudah 2 tahun tetapi lebih banyak lagi yang suport kegiatan KBBT . Terimakasih yang sudah suport KBBT lewat donasi buku, menghadiri undangan, mengisi di acara BIR (bincang ringan) dan MIRAS (mikir keras), DLL. Banyak cibiran yang datang ya entah itu mempersoalkan nama, penampilan, kegiatan, jargon-jargon , DLL. Buat kami sih anggap saja cibiran itu angin yang keluar dari belakang dan membuatnya menjadi api dan palu sebagi alat untuk menempa mental kami, ya begitulah subculture lawan dari popculture.
Popculture budaya yang dibuat untuk menghegemoni masyarakat khususnya kaum muda kaum yang sudah pasti bakal meneruskan nasib Bangsa ini, kita dibuat menjadi boneka mainan digunakan untuk kepentingan dari sipembuat popculture itu sendiri, budaya apa saja sih yang menjadi fondasi dari popculture/budaya pop, konsumerisme, hedon, individual, selebriti,dll yang secara sadar ataupun tidak sadar kita semua terbius oleh semua itu dan seakan-akan semua itu lumrah padahal semua itu dibuat.

Kok di buat,,......
Yaiyalah dibuat.....

            Mana ada orang lahir membawa kantong belanjaan (konsumerisme), mana ada orang dilahirkan untuk menjadi penggila dunia gemerlap (hedon) dan mana ada orang yang dilahirkan tanpa bantuan orang lain (individual) dan masih banyak lagi deh contohnya di tengah-tengah masyarakat kita, cari ajeee sendiri deh contohnya. Ya begitulah popculture dibuat untuk kepentingan sekelompok orang hanya untuk meraup atau mendapatkan sesuatu yang disebut dengan keuntungan atau nilai lebih dan subculture lahir untuk mendobrak, melawan dan mengingatkan kita semua adalah manusia dan manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia itu mahluk sosial. Terlalu panjang mungkin kalo w terus mengulas apa, kenapa dang mengapa KBBT itu lahir.

Selamat Ulang Tahun KBBT ke 2 Tahun, terus semangat kibarkan budaya tandingan/subculture.

Agoes
tulisan dimuat di KUDETA news letter #2